tentang kamu, tentangmu, tentang kita, tentang dia, tentangku
tentang kamu
bukan rajuk ketika ku tapak jalan lalu
sekedar nostalgia mungkin
ah
kau tak akan paham
tentangmu
geliat kenangan
harap
suka
bahagia
kecewa
luka
apa yang kau tahu
tentang kita
ada canda
ada bahagia
kadang gemas
kadang muram
hingga buram
apa yang kau paham
bukankah ‘hidup’ ini tak selalu indah
tentang dia
biar
kan jadi kenangan sekedar cermin
jangan panggil ia kembali
sebab tapak depan masih ada
tentangku
apa yang engkau tahu
makassar, 15 mei 2009
(02:37)
—
senandung kekar hati
pada pagi yang membuyarkan mimpi
ku tautkan rinduku
agar embun tak lekas pergi
ku lantunkan syair memujamu
ketika debu menghardik
ku desah lamunan
agar mentari menyengat luka
ku hampar kenangan
tak lelah engkau bersenandung
meski kekar hati meratap
sayati harapan
buram tatapmu
cemas di kaki langit[]
( kolaka, Juni 2008 )
-cupe-
Jenuh Aku Terhadap Ketakpastian
Menjelang tiga bulan kedatanganku di Kolaka. Berbagai kesan telah hadir. Kadang senang, santai, jenuh, bosan, dan sebagainya. Banyak agenda yang semestinya dijalankan namun terbentur dengan banyak kendala. Sebenarnya saya sangat senang ketika ditawari satu misi untuk dijalankan. Ya.. minimal mengasah kemampuan. Namun ketika agenda itu semakin kabur dan misi semakin tidak jelas, itulah yang membuatku merasa pengap dengan kondisi sekeliling. Ingin rasanya segera pulang. Rindu dengan suasana pedesaan di kampung kelahiran. mandi-mandi di sungai, main bola di ladang sebelum ditanami palawija. Rindu dengan keasrian halaman dan ramah penduduk desa.
Terkadang saya merasa asing. Jauh dari orang-orang yang kukenal akrab dan bersahabat. Jauh dari orang-orang yang senantiasa menjadi teman diskusi (kritik/auto kritik). Suasana keterbukaan terasa mahal. Sangat langka tuk mendapatkannya. Ataukah saya harus berdamai dengan kondisi ini dengan mengatakan bahwa “segalanya pasti ada hikmahnya” dan bersiap mendengar celotehan salah seorang teman dengan perkataanya, “itu kan, logika orang kalah!”.
Tapi, sebenarnya di dasar kesadaranku tetap tertanam tuk menyelesaikan misi. Dengan catatan bahwa kepercayaan untuk itu tetap ada. .Semoga saja suasana keterbukaan cepat terkondisikan agar ikatan semakin erat, bukannya semakin rapuh. Tentunya dengan kepemahaman bahwa roh perjuangan harus terhayati di setiap indiidu yang terlibat. Saya tidak bisa bayangkan sekiranya ini tidak tercipta. Komunitas kan mudah tercerai-berai.
Dari itu semua saya sangat mengharap agar penentu kebijakan komunitas dapat segera menyadari segala kondisi internal dan mengambil langkah strategis untuk itu. Tentunya dengan kesediaan melakukan curah gagasan antar sesama. Dengan demikian konflik internal, terkadang terlihat sebagai keniscayaan dalam komunitas mapan, dapat dinetrasi. Kesediaan mendengar segala uneg-uneg salah satu jalan tuk menumpahkan permasalahan secara tertib. Agar jangan sampai melebar keluar dan tak terkendali yang akhirnya menjadi bumerang di kemudian hari. Dan semoga apa yang telah terjadi dapat termaknai sebagai bagian dari pelajaran.[]
Alhamdulillah, Adikku Lulus UAN
Hari ini aku bahagia sebab adikku, si bungsu, telah lulus dari SMU. meski aku jauh karena berada di kolaka, namun aku dapat membayangkan senyum adikku yang mengembang dengan khas kepolosannya. Sungguh manis kiranya. Ingin ku peluk sebagai tanda kegembiraan. Doaku, semoga ia pun dapat lulus di Unhas, setelah baru-baru ini mendaftar lewat jalur UMB.
Ku impikan ia menjadi seorang perempuan yang memiliki talenta dalam berkarya. Paham tentang makna pengabdian. Sungguh sebuah kebanggaan bagiku. Semoga ia tak mudah larut dalam keras arus kehidupan di kampus, dimana kehidupan dengan khas hedonisme kerap menghiasi. Aku ingin mengucap, “duhai adikku, engkau kan menjadi Tokoh Perempuan. Suaramu kan senantiasa mengalun indah membawa irama pencerahan buat bangsa ini. Semoga”.
Kini, harimu kan lebih bermakna seiring upaya pencarianmu menuju ke kedewasaan. Jangan ragu tuk melangkah. Buang segala kesangsian dengan satu keyakinan. “Hidup kan lebih bermakna, ketika ’sejarah’ bukan sepenggal kisah tanpa arti. Namun, ’sejarah’ adalah wadah tuk bercermin menata kekinian manapak masa depan”.
Selamat, duhai adikku. Semoga keberuntungan kan senantiasa berpihak karena dihiasi hati yang tulus dari tiap langkahmu.[]
perempuan di simpang jalan
hatimu merajuk mengharap kasih
selimuti angan di lumbung duka
cerminmu retak oleh lenguhan
pilu
menyayat
buai mimpi hangati kenangan
“sejak kapan kau berdiri di situ”
tak lelah engkau menatap
punggung lelaki yang merebahkanmu semalam
tengah malam kau mengetuk pintu
bangunkan mimpiku bersamanya
tak lelah engkau menatap
kilau belati yang tertancap di ulu hati
dekapku erat
labuhkan gundah
tautkan gelisah di kamar rahasiaku
tatapmu jalang
merenda kasih di saat kau bimbang
“ada apa denganmu”
bermain api di tengah gerimis
perempuan di simpang jalan
tak lelah engkau menanti
matamu nanar menatap labirin[]
( kolaka, juni 2008 )
saat gundah kau tautkan
-cupe-
Pemerintah Bersyukur Atas Insiden 1 Juni
oleh: Supriadi
Mencermati berita akhir-akhir ini tentang kondisi kebangsaan, berbagai peristiwa saling tindih seiring polemik perjalanan bangsa ini. Berbagai reaksi pun mencuat.
Saya ingin mencoba menelisik tentang insiden 1 Juni, dimana massa FPI melakukan Penyerangan terhadap massa AKK-BB. Serta merta berbagai kalangan mengeluarkan pendapat untuk itu. Ada yang pro, ada yang kontra. Tak jarang kecaman atau pun tuntutan terhadap pembubaran FPI pun dikumandangkan oleh banyak pihak.
Namun, dengan gencarnya pemberitaan terhadap insiden tersebut, seakan permasalahan yang lain terlupakan. Sebagai misalnya, dalam waktu sekejap, permasalahan seputar kenaikan harga BBM, tidak lagi menjadi berita utama. Tragedi Unas pun terlupakan. Rakyat miskin sebanyak 110 juta, menurut versi Bank Dunia, pun tetap dibiarkan “puasa”. Ada apa?
Maka, hal yang sangat wajar ketika ada yang mengatakan bahwa ini merupakan strategi pemerintah dalam upaya pengalihan isu-isu yang lebih krusial. Karena tak dapat dipungkiri kalau kesadaran masyarakat hari ini, sangat dipengaruhi oleh pemberitaan media. Masyarakat tiap hari disuguhi berita tentang FPI sehingga hal lain terlupakan. Kenaikan harga BBM pun menjadi hal yang lumrah dan akhirnya, mau tak mau masyarakat pun menerimanya dengan lapang dada. Ini hanya salah satu contoh permasalahan yang akan terlupakan dari sekian banyak permasalahan yang mestinya harus terus disuarakan. Baudrillard mengatakan, realitas yang dihasilkan teknologi telah mengalahkan realitas yang sesungguhnya dan menjadi model acuan yang baru bagi masyarakat. Citra lebih meyakinkan ketimbang fakta. Dan mimpi lebih dipercaya ketimbang kenyataan sehari-hari. Inilah dunia hiperrealitas: realitas yang berlebih, meledak, semu.
Hal tersebut di atas memberikan gambaran pada kita bahwa untuk sementara, insiden Monas 1 Juni telah “menyelamatkan” pemerintah kita dari derasnya tuntutan karena kenaikan harga BBM dan imbasnya terhadap masyarakat kurang mampu. Banyak fakta yang tertutupi dengan mencuatnya pemberitaan seputar aksi kekerasan FPI.
Sebagai catatan akhir, FPI, hanya salah satu contoh bentuk kesadaran massa yang telah dibentuk oleh system. Reproduksi kesadaran. Jadi, menanggapi tuntutan pembubaran FPI, menurut hemat saya, FPI tak harus dibubarkan, tapi pemerintah yang harus berbenah diri. Banyak harapan masyarakat masih tertangguhkan (janji sejak pemilu). “Keamanan, Kesejahteraan, dan Keadilan”.[]
Kekerasan FPI: Wajah Buram Islam?
Oleh: Supriadi
Saya kembali teringat dengan buku karangan Kuntowijoyo “Islam Tanpa Mesjid”. Pemahaman tentang Islam yang lebih menekankan tentang pentingnya pemahaman nilai-nilai Islam dalam sendi kehidupan. Dikatakan bahwa Islam tak harus lagi terwakilkan dengan jubah putih, sorban, dan janggut. Islam bukan hanya sebatas symbol. Islam adalah nilai. Islam ada di tengah-tengah masyarakat. Bukan hanya di mesjid, mushollah, ataupun surau.
Pemahaman bahwa Islam sebagai sebuah nilai akan senantiasa mengantarkan umatnya bersikap inklusif. Bukannya ekslusif bahkan sektarian. Karena, nilai dalam hal ini lebih merujuk ke Islam sebagai rahmatan lil ‘lamin. Rahmat seluruh alam. Dengan kata lain Islam mampu dan sangat menghargai tentang nilai-nilai ke”universal”an. Tentunya adalah penekanan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
Dengan merujuk hal tersebut mestinya umat Islam mampu membuktikan dirinya sebagai penganut yang menjunjung tinggi rasionalitas. Dengan rasionalitas tersebut, umat Islam mampu memahami dialektika zaman. Peka terhadap tiap perubahan. Tidak menutup mata terhadap segala wacana yang berkembang. Termasuk memahami bahwa berkeyakinan adalah hal mutlak dan paling privasi yang dimiliki oleh tiap manusia. Keyakinan dalam bentuk apapun. Dengan rasionalitas beragama, umat Islam kan senantiasa mampu memahami nilai-nilai kamanusiaan tersebut.
Mestinya para Ulama dan Mubaligh mampu menanggalkan “jubah putihnya” agar kemudian masyarakat secara luas dapat memahami bahwa Islam benar-benar dapat diejawantahkan dalam rana social. Pembumian nilai-nilai keislaman. Menurut hemat saya, hal inilah yang harus ditekankan terlebih dahulu ketika kita meyakini Islam sebagai agama ideal. Agama yang mampu menjawab tiap permasalahan masyarakat. Bukannya sebagai alasan untuk saling menyerang dan dengan sendirinya mengingkari nilai agung keislaman.
BerIslam itu cerdas. Bukannya hadir sebagai kelompok yang represif tanpa pernah mempertimbangkan cost social dari tiap tindakan yang mengatasnamakan “perang terhadap penyelewengan agama”. Misalnya, FPI, salah satu kelompok Islam yang lahir sejak 17 Agustus 1998 (24 Rabiuts Tsani 1419 H), kerap mempraktekkan kekerasan di balik wajah Islam. FPI pun menjadi terkenal karena aksi-aksinya yang kontroversial sejak tahun 1998. Rangkaian aksi penutupan klab malam dan tempat-tempat yang diklaim sebagai tempat maksiat, penangkapan (sweeping) terhadap warga negara tertentu, konflik dengan organisasi berbasis agama lain adalah wajah FPI yang paling sering diperlihatkan dalam media massa.
Dengan wajah seperti itu, secara perlahan FPI telah membangun citra buruk wajah Islam terhadap komunitas agama lain. Tentu saja bagi selain Islam, Islam adalah agama yang tidak manusiawi, agama yang tidak menghargai kemerdekaan, agama yang mengabsahkan pembunuhan, dan agama yang tidak menghargai nilai kemanusiaan. Ironis memang. Padahal FPI didirikan oleh tokoh-tokoh agama Islam, Habaib, Ulama dan Mubaligh. Tokoh-tokoh yang diyakini oleh pengikutnya sebagai orang-orang yang khatam akan nilai-nilai keislaman. Nilai-nilai yang menjunjung tinggi keadilan, menghargai kemerdekaan, menghargai bentuk keyakinan orang lain, dan nilai yang membawa pencerahan dan pembebasan.
Apalagi ketika merujuk tujuan dari organisasi ini, sebagai wadah kerja sama antara ulama dan umat dalam menegakkan Amar Makruf dan Nahi Munkar di setiap aspek kehidupan, tak selayaknya terjadi lagi insiden kekerasan 1 Juni 2008. dimana FPI melakukan aksi kekerasan terhadap Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKK-BB). Insiden tersebut menunjukkan betapa FPI telah gagal memahami arti pluralisme beragama.[]
Pengantar untuk Hipersemiotika (Yasraf Amir Piliang)
Oleh: Bambang Sugiharto, filsuf
Setelah lewat dari duapuluh tahunan sejak awal kehebohannya, istilah “posmodernisme”, sebagai terminologi, periodisasi ataupun isi gagasan, tetaplah problematis dan penuh kontroversi. Namun, rupanya hal itu tak seberapa mengganggu perkembangan isu dan substansi yang ditawarkannya. Kendati sebagai trend ia boleh jadi sudah kadaluwarsa, dalam berbagai kemasan baru yang berbeda ternyata sebagai substansi ia justru berkembang biak hingga hari ini, seperti sesuatu yang tak terelakkan. Bahkan dari sudut ini, substansi posmodernisme sepertinya justru baru lahir dan berkembang. Hampir di segala lini wacana, dari biologi, fisika, politik, antropologi hingga teologi kini berhamburan kerangka-kerangka pikir baru yang hanya bisa dimengerti bila kita memahami segala isu yang awalnya dilemparkan oleh gejala posmodernisme.
Untuk sekadar mengingat kembali masalahnya, dalam memahami konsep posmodernisme kita memang mudah terjebak kedalam berbagai kerancuan perspektif, terutama bila kita hendak sangat nyinyir membuat batasan-batasan tegas yang memisahkan antara modernisme dan posmodernisme. Karikatur posmodernisme mudah bercampur baur dengan substansi isinya yang kompleks. Posmodernisme dalam perspektif estetik kerap tumpang tindih dengan posmodernisme dalam perspektif filsafat. Yang pertama bicara tentang perubahan gaya, dengan pembabakan tersendiri, yang kedua tentang perubahan kerangka dasar pemikiran, dengan pembabakannya yang khas pula. Belum lagi pembicaraan pada fenomena kultural, macam kulturkritik ataupun ideologikritik, juga sering membaur dengan pembicaraan pada wilayah problematika epistemologis, sehingga antara simptom dan substansi, juga antara obyek kajian dan paradigma berpikir, terjadi kerancuan yang menyulitkan kita untuk menyiangi duduk perkaranya.
Lebih pelik lagi, bahkan para teoretikus posmodernisme itu sendiri pun tak jarang saling bertabrakan dalam mencanangkan batasan-batasan itu. Apa yang dianggap karakteristik posmodernisme oleh Jencks seperti double-coding, misalnya, justru oleh Lyotard dianggap karakteristik modernisme, meski ia menggunakan istilah “nostalgia” untuk itu. Yang oleh Suzy Gablik dianggap ciri posmodernisme, yaitu perayaan pluralitas dan polisemi, justru mirip ciri-ciri modernisme yang dicanangkan oleh Eugene Lunn, meski ia menggunakan istilah “ambiguitas, paradoks, dan ketidaktentuan.” Bahkan kecenderungan macam simultanitas, juktaposisi dan montase, yang kerap dianggap karakter posmodernisme, justru oleh Lunn dianggap karakter modernisme. Dan kalau kita dengarkan Habermas, Anthony Giddens, Ernest Gellner, atau Callinicos, yang sebal terhadap istilah “posmodern” itu, di sana pun ada anggapan bahwa segala kecenderungan kritis dekonstruktif posmodern tidak lain dari konsekuensi logis lebih lanjut dari reflektivitas modern sejak Descartes dan sempat menggumpal pada Zaman Pencerahan. Dan bagi mereka substansi yang ramai dibicarakan dalam posmodernisme tak lebih dari sekadar variasi lain dari perdebatan yang telah terjadi dalam kritik Romantisisme atas Pencerahan di awal abad 19-an. Tak heran bila dalam kamus The Modern Day Dictionary of Received Ideas, dinyatakan bahwa “posmodernisme” adalah “istilah yang tak punya arti dan gunakan saja sesering mungkin”, kita langsung teringat omongan Franco Moretti, bahwa istilah “modernisme” adalah juga “istilah tanpa arti dan jangan terlalu sering digunakan.” Memang lucu dan terasa konyol.
Tapi apa pun label yang kita gunakan, sekurang-kurangnya wacana yang berkembang sejak itu telah membukakan persoalan-persoalan mendasar dan paradigmatik dalam peradaban manusia di awal milenium ketiga ini. Orang seperti Lyotard, Feyerabend dan Rorty misalnya, telah membantu menegaskan secara populer relativitas dan sisi ideologis dunia ilmiah modern dan membuka ruang lebih luas bagi wacana-wacana kecil yang lama disisihkan. Sejak mereka itu hegemoni positivisme direlatifkan secara lebih definitif. Dan sejak itu segala wacana tentang posisi sains hari ini menjadi jauh berbeda. Derrida dan Barthes meradikalkan ihwal instabilitas makna dalam wacana, yang benihnya telah tersemai dalam strukturalisme Saussure maupun hermeneutika Heidegger, Gadamer dan Ricoeur. Foucault mempertegas kemungkinan cara lain membaca sejarah sekaligus memperlihatkan eratnya keterkaitan antara sistem-sistem pengetahuan dengan kekuasaan: suatu perspektif penting, yang dikemudian hari terbukti melahirkan sensibilitas intelektual baru di kalangan para ilmuwan sosial dan humaniora umumnya. Deleuze sungguh berjasa dengan perspektif barunya—perspektif skizofrenik—dalam menganalisis dan memahami fenomena kebudayaan dan kapitalisme mutakhir. Dengan itu rasanya ia berhasil memperlihatkan struktur-struktur tersembunyi di balik peradaban hari ini, lebih dalam daripada yang telah dilakukan oleh para pengikut Freud dan Marx lain sebelumnya. Sayang sekali, kebaruan sudut pandangnya membuat gagasan-gagasannya tidak cepat memasar dan sepertinya perlu waktu lebih lama untuk bergaung lebih signifikan.
Ada pun Baudrillard, yang dalam buku ini menjadi salah satu fokus utama pembahasan, adalah salah satu tokoh yang paling berkibar di antara para pemikir itu juga. Gaya bahasanya memang provokatif dan acapkali hiperbolis, sehingga mudah memikat dan memicu antusiasme, kendati sesungguhnya tak mudah dicerna juga. Buku ini akan menguraikan dengan bagus dan fasih gagasan-gagasan itu. Namun, kiranya perlu kita menangkapnya secara cukup proporsional. Untuk itu ada bagusnya kita mengingat juga beberapa hal yang bisa meragukan dan terasa lemah pada Baudrillard. Yang langsung terasa pada Baudrillard adalah bahwa gaya wacana yang dimainkannya sesungguhnya kurang filosofis dalam arti kurang bersandar pada rigoritas argumentasi dan lebih menekankan efek kata yang bersifat retoris. Bila kita gunakan peristilahan yang diciptakannya sendiri, maka gagasan-gagasan Baudrillard persis merupakan wajah simulacra yang beranak-pinak dan ber-“ekstasi” sedemikian menciptakan dunia imajiner hyperreal-nya sendiri. Kemudian salah satu yang sangat ia tekankan juga adalah bahwa seluruh realitas seakan sudah sedemikian digenangi oleh berlapis-lapis duplikasi simulacra hingga seolah tak ada kemungkinan lagi membuat semacam jarak reflektif. Namun, bila demikian halnya. bagaimana mungkin Baudrillard sendiri masih bisa bicara tentang korelasi dan transisi antara yang hyperreal dan yang real? Ini kontradiksi performatif yang diidap oleh wacana-wacana Baudrillard.
Pada sisi lain Baudrillard pun terlampau termabukkan oleh dunia imaji dan penanda sedemikian hingga tak cukup memberi perhatian pada kenyataan bahwa medan suprastruktur itu betapapun juga dilahirkan oleh medan infrastruktur, yaitu mesin-mesin reproduksi, macam televisi, komputer, video-recorder, satellite-disc, dan sebagainya. Dan bila kita menyasar ke wilayah peralatan media itu, sesungguhnya seperti diperlihatkan oleh orang macam Lipovetsky, kita pun bisa melihatnya dari sisi tertentu sebagai terbukanya peluang lebih besar bagi inisiatif individu untuk terlibat dalam kiprah kultur secara lebih otentik (bahkan kendati pun ada orang yang melihatnya tetap sebagai fenomena privatisasi palsu alias pseudo-privacy). Berkaitan dengan itu, tendensi omongan Baudrillard yang sangat pesimistik dan apokaliptik juga sering terasa berlebihan, seakan dunia manusia akan hancur karena manusia telah terperangkap dalam dunia imajiner yang tak lagi memungkinkannya bersikap realistis. Nada apokaliptik macam itu agak tipikal dan rutin di kalangan para pemikir yang pernah terlibat dalam revolusi kaum muda tahun 68-an di Eropa, yang dalam perjalanan waktu ternyata mengalami disilusi dan merasa gagal. Dunia kapitalisme yang dahulu dikritiknya dan hendak dimodernisasikannya ternyata tetap berjaya dengan segala kelebihan dan kontradiksi internnya. Sikap apokaliptik berlebihan itu jangan-jangan hanya mencerminkan ketidakberdayaan para pemikir macam Baudrillard itu sendiri. Dengan mudah kita masih selalu bisa melihat dan mengalami bahwa dalam realitas nyata hubungan, sikap, gambaran diri, atau cara berpikir kita tak sepenuhnya sangat ditentukan oleh simulacra, melainkan oleh interaksi konkrit yang pemaknaannya jauh lebih spesifik dan kontekstual daripada yang bisa direduksi ke dalam kodifikasi umum simulacra. Pada titik ini, segala wacana apokaliptik akhir-akhir ini yang gemar mencanangkan “berakhirnya” sesuatu atau segala sesuatu, seringkali hanyalah siasat retoris saja untuk memperlihatkan urgensi sisi-sisi tertentu realitas yang biasanya tak dilihat.
Meskipun begitu, gagasan-gagasan Baudrillard tetaplah penting, terutama karena salah satu fenomena yang menonjol di awal milenium ketiga ini adalah terjadinya proses demokratisasi dan radikalisasi logika hedonisme di kalangan kelas menengah yang memang makin mampu mengonsumsi dan sedang sangat bergairah ke arah itu (salah satu penyebab korupsi terparah akhir-akhir ini di Indonesia). Kehidupan kelompok menengah itu makin menuntut “gaya”, makin mengalami “estetisasi”, maka wacana Baudrillard bisa banyak relevan untuk memperlihatkan sisi terselubung dan berbagai konsekuensi dari perayaan konsumsi dan dunia imaji itu. Itu pula yang membuat buku Yasraf Amir Piliang ini masih sangat relevan.
Selain itu, selama ini pembahasan yang agak substansial dan komprehensif tentang posmodernisme yang sempat terbit, baru menggarap sisi filosofis dan epistemologisnya. Sedang sisi kultural dan estetik dari posmodernisme belum tergarap secara rinci dan menyeluruh. Yang ada adalah tulisan-tulisan yang berceceran secara parsial. Buku ini, sebagai suatu buku utuh, berhasil memperlihatkan secara menyeluruh dan rinci tentangnya. Pemaparan deskriptif-informatif, bahkan nyaris leksikografis, yang menuntut ketekunan cermat ini, sangatlah berharga sebagai suatu tahapan dasar untuk melakukan refleksi lebih mendalam dan substansial selanjutnya atas kiprah peradaban mutakhir dunia kita ini. Bagi mereka yang telah alergi terhadap istilah “posmo” sekali pun, buku ini tetap akan sangat bermanfaat.[]
apa yang engkau tahu tentangku
apa yang engkau tahu tentangku. cerita semalam tak cukup menggambarkan diriku. kulaimu tak mampu mengusik kesadaran. simpulanmu tak mampu menggemingkan keyakinanku. sungginganmu tak cukup meluruhkan perasaan. meski hanyut engkau dalam pelukan.
apa yang engkau tahu tentangku. ketelanjanganku ternyata hanya membuatmu buta. silaumu tak dapat engkau jinakkan. keliaranku hanya sesaat. dimalam lain mungkin aku yang tak dapat melantakkanmu.
apa yang engkau tahu tentangku. kejujurankah yang engkau lihat. ataukah kebohongan dengan muka begitu polos. mengaitmu. membuatmu sepi. meski engkau terbaring di pangkuan.
apa yang engkau tahu tentangku. ketika engkau meraba benakku. dendam. kebencian. luka. kecewa. ataukah cinta yang engkau temui.
apa yang engkau tahu tentangku. apa yang engkau tahu tentangmu. apa yang engkau tahu tentangnya. apa yang engkau tahu tentang mereka. apa yang engkau tahu tentang apa yang aku tahu.[]
( kolaka, akhir mei 2008 )
-cupe-
pedoko aku pada penjual pulau
pedoko aku pada pengumbar
pedoko aku pada pengkoar
pedoko aku pada pengjanji
tertipu aku dengan senyummu
tertipu aku dengan santunmu
tertipu aku dengan sahajamu
sakit aku memikirmu
sakit aku mngingatmu
sakit aku mengenangmu
pedoko aku pada seragam kelammu
pedoko aku pada piring besarmu
pedoko aku pada jubah putihmu
pedoko aku pada pengbijak
tertipu aku dengan dermamu
sakit aku mengenang pulauku
pedoko aku sebab engkau pedoko pada pedoko aku
( kolaka, mei 2008 )
mengenang Pulau Lemo Kolaka yang tergadai pada pemodal
-cupe-
——–
catatan:
pedoko adalah sejenis ungkapan kejengkelan dalam bahasa sehari-hari masyarakat kolaka
