WalasujiTa

lewa lewana lino

dialog ujung pertemuan

I
tapak hitam itu
sekiranya masih ada
maka jangan pernah berbalik arah
sebab terlalu banyak kesangsian kan bersua

tidak perlu berbalik arah
cukup berhenti sesaat
dan kesangsian kan memudar

hanya sayang
jalan itu masih gelap
pun pelita telah meredup
telah lama dibiarkan meranggas
air mata telah kering di muara
akankah sauh ku lepas
ketika biduk tak lagi bercadik
namun senyuman itu masih tersisa

tidak
apa yang tersisa setelah aku jadikan jalan gelap
dan kau biarkan pelita meredup
ya
kita berdua telah membiarkannya meranggas begitu lama

II
ah
lidahku kelu
pun peluh tak lagi mengering
ketika cermin itu kembali kau hadapkan di wajahku
tak ayal ku hentak kenangan
namun menghempasku lebih dulu
nyanyi sunyi ku lantunkan

aku dipermainkan kenangan

itu adalah cerita kelam
mungkinkah ada keindahan

kelam
sangat kelam
keindahan memang ada
namun tertutup kebencian

bukan
bukan kebencian yang menutupinya
hati yang tak lagi mampu mengenali

hati itu yang ku benci
sebab tak lagi mengenaliku

apa yang bisa diperbuat olehnya
ketika engkau tak pernah lagi menyapanya
bukankah ia pernah datang membujukmu
namun engkau menampik


ibarat suatu tempat
ditinggalkan sejenak
namun saat kembali
terlalu banyak perubahan
sehingga tempat itu tak lagi ia kenali
sekarang
terulang di sisi yang beda

uh
mungkinkah persuaan masih berarti
bukanlah amarah sekiranya engkau tak lagi aku jumpai
sekedar menghindari goresan luka[]

tamalanrea, 2009

Oktober 20, 2011 Posted by | puisi, sastra | Tinggalkan sebuah Komentar

lelaki tua di padang senja

masih kau terpaku pandangi ilalang
meski hari makin senja
“aku ingin menjenguk kerbauku”
ucapmu lirih menatap tanahmu yang makin gersang

semalam kau mengigau tentang usiamu yang makin menua
khawatir generasimu tak lagi kenal ibunya
hingga marahmu sebab mereka tak dapat menambal celana dalamnya sendiri
“puih, zamanmu memang gila”
entah hingga kapan kau mengumpat
bangunkan ego kanak-kanakku

aku tahu resahmu
aku pun paham marahmu
hari ini telah ku tebar kecewa di pinggir-pinggir kota
kelak akan ku nyanyikan lirik lagu yang telah lama kau gubah
buat ibu buat generasi
di istana
agar kembali ku tatap matamu dengan cinta

bogor, 13 oktober 2011 (04:14)

Oktober 13, 2011 Posted by | puisi, sastra | Tinggalkan sebuah Komentar

pesan kawan

pun kita telah sepakat
bahwa perjuangan tak pernah usai
di kampus
di jalanan
di gedung-gedung
bahkan di kamar
ketika kita kembali ke mimpi masing-masing
sebelum akhirnya kita kembali bertemu
esok atau entah kapan
saat tawamu telah berubah
saat jabat tangan kita makin erat
atau dipaksa tuk meng-erat-kan
namun
tentang kita
tak pernah usai

depok, 2 maret 2011 02:09

Oktober 13, 2011 Posted by | puisi, sastra | Tinggalkan sebuah Komentar

penaifan

cukup hari ini sebagai peringatan buatmu
tak perlu mengeluh
pun meringis
sebab lenguhanmu tak lagi membawa pesan tempo hari
gurat nasib kita telah rebah di patah sangkal
terlalu dini tuk bangkit
biarkan seperti itu tak perlu lagi memanggil
meski rindu semakin mengharu

bukafe, mei 2011
cupe

Mei 5, 2011 Posted by | puisi, sastra | Tinggalkan sebuah Komentar

catatan penghujung malam

sengaja ku tanggalkan hiasan di depanmu
setelah sekian lama ku patut
ku jejakkan bauku di depan pintumu
hanya ingin kau tahu
rindu kemarin masih terbungkus
dalam jaring yang pernah kau rajut

jemarimu masih saja lentik mainkan dawai
nadamu pun tak beranjak
hingga seribu senyuman kau gantung di langit kamarmu
suatu ketika
satu demi satu
jatuh menimpa tiap bagian tubuhmu

aku masih berdiri di pintumu
sengaja tak menyapa
sebab tanganku pun telah kau catut
sejak keretaku retak tak berpesona
ketika senyuman terburai di dinding kamarku

mare, 7 Juni 2009

Desember 1, 2009 Posted by | puisi, sastra | 2 Komentar

tentang kamu, tentangmu, tentang kita, tentang dia, tentangku

tentang kamu
bukan rajuk ketika ku tapak jalan lalu
sekedar nostalgia mungkin
ah
kau tak akan paham

tentangmu
geliat kenangan
harap
suka
bahagia
kecewa
luka
apa yang kau tahu

tentang kita
ada canda
ada bahagia
kadang gemas
kadang muram
hingga buram
apa yang kau paham
bukankah ‘hidup’ ini tak selalu indah

tentang dia
biar
kan jadi kenangan sekedar cermin
jangan panggil ia kembali
sebab tapak depan masih ada

tentangku
apa yang engkau tahu

makassar, 15 mei 2009
(02:37)

Mei 16, 2009 Posted by | puisi, sastra | Tinggalkan sebuah Komentar

senandung kekar hati

pada pagi yang membuyarkan mimpi

ku tautkan rinduku

agar embun tak lekas pergi

ku lantunkan syair memujamu

ketika debu menghardik

ku desah lamunan

agar mentari menyengat luka

ku hampar kenangan

 

tak lelah engkau bersenandung

meski kekar hati meratap

sayati harapan

buram tatapmu

cemas di kaki langit[]

 

( kolaka, Juni 2008 )

-cupe-

Juni 28, 2008 Posted by | puisi | | Tinggalkan sebuah Komentar

Jenuh Aku Terhadap Ketakpastian

Menjelang tiga bulan kedatanganku di Kolaka. Berbagai kesan telah hadir. Kadang senang, santai, jenuh, bosan, dan sebagainya. Banyak agenda yang semestinya dijalankan namun terbentur dengan banyak kendala. Sebenarnya saya sangat senang ketika ditawari satu misi untuk dijalankan. Ya.. minimal mengasah kemampuan. Namun ketika agenda itu semakin kabur dan misi semakin tidak jelas, itulah yang membuatku merasa pengap dengan kondisi sekeliling. Ingin rasanya segera pulang. Rindu dengan suasana pedesaan di kampung kelahiran. mandi-mandi di sungai, main bola di ladang sebelum ditanami palawija. Rindu dengan keasrian halaman dan ramah penduduk desa.

 

Terkadang saya merasa asing. Jauh dari orang-orang yang kukenal akrab dan bersahabat. Jauh dari orang-orang yang senantiasa menjadi teman diskusi (kritik/auto kritik). Suasana keterbukaan terasa mahal. Sangat langka tuk mendapatkannya. Ataukah saya harus berdamai dengan kondisi ini dengan mengatakan bahwa “segalanya pasti ada hikmahnya” dan bersiap mendengar celotehan salah seorang teman dengan perkataanya, “itu kan, logika orang kalah!”.

 

Tapi, sebenarnya di dasar kesadaranku tetap tertanam tuk menyelesaikan misi. Dengan catatan bahwa kepercayaan untuk itu tetap ada. .Semoga saja suasana keterbukaan cepat terkondisikan agar ikatan semakin erat, bukannya semakin rapuh. Tentunya dengan kepemahaman bahwa roh perjuangan harus terhayati di setiap indiidu yang terlibat. Saya tidak bisa bayangkan sekiranya ini tidak tercipta. Komunitas kan mudah tercerai-berai.

 

Dari itu semua saya sangat mengharap agar penentu kebijakan komunitas dapat segera menyadari segala kondisi internal dan mengambil langkah strategis untuk itu. Tentunya dengan kesediaan melakukan curah gagasan antar sesama. Dengan demikian konflik internal, terkadang terlihat sebagai keniscayaan dalam komunitas mapan, dapat dinetrasi. Kesediaan mendengar segala uneg-uneg salah satu jalan tuk menumpahkan permasalahan secara tertib. Agar jangan sampai melebar keluar dan tak terkendali yang akhirnya menjadi bumerang di kemudian hari. Dan semoga apa yang telah terjadi dapat termaknai sebagai bagian dari pelajaran.[]

Juni 28, 2008 Posted by | beranda | Tinggalkan sebuah Komentar

Alhamdulillah, Adikku Lulus UAN

Hari ini aku bahagia sebab adikku, si bungsu,  telah lulus dari SMU. meski aku jauh karena berada di kolaka, namun aku dapat membayangkan senyum adikku yang mengembang dengan khas kepolosannya. Sungguh manis kiranya. Ingin ku peluk sebagai tanda kegembiraan. Doaku, semoga ia pun dapat lulus di Unhas, setelah baru-baru ini mendaftar lewat jalur UMB.

 

Ku impikan ia menjadi seorang perempuan yang memiliki talenta dalam berkarya. Paham tentang makna pengabdian. Sungguh sebuah kebanggaan bagiku. Semoga ia tak mudah larut dalam keras arus kehidupan di kampus, dimana kehidupan dengan khas hedonisme kerap menghiasi. Aku ingin mengucap, “duhai adikku, engkau kan menjadi Tokoh Perempuan. Suaramu kan senantiasa mengalun indah membawa irama pencerahan buat bangsa ini. Semoga”.

 

Kini, harimu kan lebih bermakna seiring upaya pencarianmu menuju ke kedewasaan. Jangan ragu tuk melangkah. Buang segala kesangsian dengan satu keyakinan. “Hidup kan lebih bermakna, ketika ‘sejarah’ bukan sepenggal kisah tanpa arti. Namun, ‘sejarah’ adalah wadah tuk bercermin menata kekinian manapak masa depan”.

 

Selamat, duhai adikku. Semoga keberuntungan kan senantiasa berpihak karena dihiasi hati yang tulus dari tiap langkahmu.[]

Juni 15, 2008 Posted by | beranda | Tinggalkan sebuah Komentar

perempuan di simpang jalan

hatimu merajuk mengharap kasih

selimuti angan di lumbung duka

cerminmu retak oleh lenguhan

pilu

menyayat

buai mimpi hangati kenangan

“sejak kapan kau berdiri di situ”

tak lelah engkau menatap

punggung lelaki yang merebahkanmu semalam

 

tengah malam kau mengetuk pintu

bangunkan mimpiku bersamanya

tak lelah engkau menatap

kilau belati yang tertancap di ulu hati

 

dekapku erat

labuhkan gundah

tautkan gelisah di kamar rahasiaku

tatapmu jalang

merenda kasih di saat kau bimbang

 

“ada apa denganmu”

bermain api di tengah gerimis

 

perempuan di simpang jalan

tak lelah engkau menanti

 

matamu nanar menatap labirin[]

 

( kolaka, juni 2008 )

saat gundah kau tautkan

 

-cupe-

 

Juni 14, 2008 Posted by | beranda, puisi | | Tinggalkan sebuah Komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.