WalasujiTa

lewa lewana lino

lelaki tua di padang senja

masih kau terpaku pandangi ilalang
meski hari makin senja
“aku ingin menjenguk kerbauku”
ucapmu lirih menatap tanahmu yang makin gersang

semalam kau mengigau tentang usiamu yang makin menua
khawatir generasimu tak lagi kenal ibunya
hingga marahmu sebab mereka tak dapat menambal celana dalamnya sendiri
“puih, zamanmu memang gila”
entah hingga kapan kau mengumpat
bangunkan ego kanak-kanakku

aku tahu resahmu
aku pun paham marahmu
hari ini telah ku tebar kecewa di pinggir-pinggir kota
kelak akan ku nyanyikan lirik lagu yang telah lama kau gubah
buat ibu buat generasi
di istana
agar kembali ku tatap matamu dengan cinta

bogor, 13 oktober 2011 (04:14)

Oktober 13, 2011 Posted by | puisi, sastra | Tinggalkan sebuah Komentar

pesan kawan

pun kita telah sepakat
bahwa perjuangan tak pernah usai
di kampus
di jalanan
di gedung-gedung
bahkan di kamar
ketika kita kembali ke mimpi masing-masing
sebelum akhirnya kita kembali bertemu
esok atau entah kapan
saat tawamu telah berubah
saat jabat tangan kita makin erat
atau dipaksa tuk meng-erat-kan
namun
tentang kita
tak pernah usai

depok, 2 maret 2011 02:09

Oktober 13, 2011 Posted by | puisi, sastra | Tinggalkan sebuah Komentar

   

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.